Wisata

Titulo

sekilas tentang SKALA BRAK

dikutip dari Udo SEEM R. CANGGU, SE,MM
Berdasarkan penemuan-penemuan sejarah yang berupa patung, pahatan dengan corak megalitik disekitar Batu Brak, Kenali, Liwa, Sukau dan Sumberjaya, Kerajaan Skala Brak diperkirakan telah ada pada kisaran abad-12, sebuah kerajaan yang besar dan termashur bertahta di lereng Gunung Pesagi yang diyakini sebagai asal usul suku bangsa Lampung.

Dari Bumi Skala Brak inilah suku Bangsa Lampung tersebar ke berbagai penjuru daerah dengan mengikuti aliran sungai (Way) Komering, Way Semangka, Way Sekampung, Way Seputih, Way Tulang Bawang, Way Umpu, Way Rarem dan Way Besai.

BUKTI SEJARAH
Keberadaan dan kemashuran Kerajaan Skala Brak dikuatkan dengan bukti-bukti sejarah seperti "tambo-tambo" (catatan sejarah) yang terbuat dari kulit kayu dan kulit kerbau, serta benda-benda kuno yang diyakini peninggalan Kerajaan Skala Brak seperti :

Batu Kahyangan, batu ini ada disuatu daerah perkebunan kopi yang dinamakan kulud, terletak diseberang sungai Tippon kurang lebih 3 Km dari Lamban Gedung Dalom (Keraton) Kepaksian Pernong, batu tersebut terdiri dari 3 buah batu masing-masing satu batu yang berukuran lebar dengan diameter kurang lebih 2 m persegi permukaannya rata, tingginya sekitar 30-40 cm dari permukaan tanah dan satu batu berbentuk persegi panjang dengan ketinggian sekitar 160-170 cm, dan satu lagu berbentuk bundar dengan diameter sekitar 50 cm, konon cerita yang berkembang di masyarakat, dizaman pra Islam batu-batu ini dijadikan sebagai tempat upacara "ikhau" yang dilaksanakan sebagai upacara persembahan kepada Dewa Kahyangan, sehingga batu tersebut dikenal dengan sebutan Batu Kahyangan.

Batu Brak, yang dalam tulisan Lampung Batu Bghak (bghak= dewa) yang terdapat diperbatasan Pekon Canggu dan pekon Balak kurang lebih 1 Km dari lamban Gedung Dalom Kepaksian Pernong, konon pada zaman Pra Islam ketika musim kemarau, dengan menyiram batu ini masyarakat percaya bahwa Dewa akan menurunkan hujan.

Batu Brak Purawiwitan, terletak di Kecamatan Sumberjaya yang diyakini merupakan peninggalan orang zaman dahulu jauh sebelum dikenalnya perkakas besi.

Batu Buaya, di Pekon Hantatai Suoh.

Batu Kepappang (batu bercangkah), di tanjung menang Kenali yang diduga sebagai tempat pelaksanaan hukuman mati terhadap mereka yang divonis dengan hukuman berat pada zaman dahulu.

Batu Tulis Bunuk Tuar, atau yang dikenal dengan Haur Kuning di Liwa sebuah batu besar dengan tinggi 1,33 m lebar bawah 60 cm bertuliskan huruf Hindu.

Batu Kebayan (kebayan=pengantin), terletak di Pekon Batu Kebayan Kecamatan Sekincau.

Kerajaan Skala Brak dihuni oleh suku TUMI yang menganut kepercayaan animisme, sebahagian cerita mengatakan mereka menganut Agama Budha, diperintah oleh seorang Raja RATU SEKAKHEMONG yang merupakan penguasa pertama dan sekaligus sebagai Raja terakhir dari Kerajaan Skala Brak.
Suku Tumi menyembah pohon belasa kepappang yaitu pohon yang batangnya menyerupai pohon nangka, sedangkan dahannya sejenis kayu sebukau, menurut riwayat keunikan dari pohon ini yaitu getah dahannya mengandung racun sedangkan getah dahannya sebagai penawar racun.


post berikutnya Jatuhnya Kerajaan Skala Brak

3 komentar

  1. masih banyak orang bertanya benarkah ada kerajaan besar skala brak, apakah memang benar mrpkn asal usul orang lampung karena tdk ada bukti2 yang menguatkan itu dan juga tdk ada riset resmi dari pemerintah

    BalasHapus
  2. Suku Tumi... Suku Tumi... Malang bener nasib anda... Terusir di tanah tumpah sendiri... Sejarah dan jejak anda juga sudah dilenyapkan, selenyap lenyapnya... Aku kasihan dgn suku tumi, kemanakah mereka pergi????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di ranau ada sebuah kampung bernama kampung tumi, rata2 mereka tinggal diperbukitan

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.